News | PAP

NEWS

Bu Surianty: Menabur Benih Indah Budaya Seni Tari July 29, 2021 No Comment

Bu Surianty: Menabur Benih Indah Budaya Seni Tari

Di kelas 6 SD Pa Hoa, dirinya sudah mulai belajar menari. Beruntung, saat itu sekolah memberi kebebasan yang cukup bagi Surianty/Liu Chun Wan untuk melakukan hal yang disukainya. Pada awal perjalanan karirnya pun, ayah Surianty sempat merasa khawatir kalau-kalau pelajaran sekolahnya terbengkalai. Namun, Surianty tidak menyerah. Semuanya bisa dilewatinya dengan baik.
Menari adalah panggilan jiwa A Chun, panggilan akrab Surianty. Tidak heran, prestasi tinggi dalam bidang tari sudah diraih alumna Pa Hoa angkatan tahun 1958 ini sejak masa mudanya. Salah satu tari yang paling menarik hatinya adalah Serampang Dua Belas yang menggambarkan tahap pasangan kekasih berkenalan hingga jatuh cinta.
Karena prestasinya yang gemilang, di usia 17 tahun pada tahun 1957, A Chun terpilih oleh kementerian kebudayaan untuk mewakili Indonesia mengikuti Festival Pemuda Internasional di Moskow. Sekembalinya dari Moskow, A Chun diutus pula ke Singapura untuk mewakili Indonesia dalam rangka tukar kebudayaan tradisional dan mengadakan pertunjukan di Nanyang University. Di Singapura ini juga, A Chun bertemu Tay Liong Sin yang kemudian menjadi suaminya. A Chun kerap diundang ke Singapura untuk mengajar serta mementaskan pertunjukan tarinya.
Upaya Surianty untuk mengharumkan nama Indonesia melalui tarian pun teruji seiring berjalannya waktu. Pada tahun 1966, A Chun sekeluarga pindah untuk menetap di Hong Kong. Di sana, ia sempat mendapatkan kesan bahwa tarian Asia Tenggara kurang diminati. Jalan pun terbuka pada tahun 1976 melalui salah seorang teman yang diundang di Hongkong untuk menampilkan tarian Indonesia. Li Zhan Hong, nama kawan A Chun, mengajaknya sebagai partner untuk berpentas.
Itulah langkahnya untuk kembali menari di atas panggung setelah sekian lama terhenti. A Chun terus berusaha mengenalkan indahnya tarian Indonesia dan Melayu hingga, pada tahun 1980, didirikanlah Hong Kong South East Asia Dance Troup (SEADT). Ia menjadi pimpinan, direktur artistik, dan sekaligus koreografer dalam kelompok tersebut.
Perjalanan karya Surianty membawanya menjadi anggota dari The International Dance Council of Unesco. Dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Surianti juga meraih Anugerah Kebudayaan.
Kembali untuk Menginspirasi. Surianty menyadari bahwa seni dan budaya Indonesia yang beragam adalah kekayaan bangsa yang harus dihargai dan dilestarikan. Berbagai upaya untuk melestarikan seni ini harus tetap dilakukan, agar karya-karya yang ada dapat diwariskan dari generasi ke generasi selanjutnya.
Surianty yang telah menghasilkan begitu banyak karya pun tidak lupa untuk kembali mengunjungi dan memberikan inspirasinya kepada para generasi penerus. Pada bulan Februari 2019, Surianty bersama dengan grup tarinya mengadakan pertunjukan kolaborasi bersama dengan peserta kegiatan ekstrakurikuler Sekolah Terpadu Pahoa. Kepada para orangtua siswa dan tamu undangan disuguhkan pertunjukan tarian dengan berbagai nuansa, mulai dari tarian tradisional, klasik, sampai tarian kontemporer. Pada kesempatan itu grup SEADT membawakan sejumlah tarian, antara lain, Tari Betawi, Tari Tradisional Tiongkok, dan Tari Genderang. Semuanya mengundang tepuk tangan meriah dari para hadirin.
Ada harapan bahwa apa yang dibawakan oleh Surianty kepada para generasi muda dan siswa-siswi Sekolah Terpadu Pahoa yaitu agar kebudayaan Indonesia dapat dipromosikan sehingga makin dikenal di mata dunia. Jika dirinya berjuang melalui seni tari tradisional yang indah nan sarat makna, maka kita bisa berjuang dengan berbagai cara yang kita mampu. (Humas)