Ketika kita mengenalnya, kita dapat langsung mengetahui kecintaannya pada sejarah, terutama pada sejarah Pahoa tercinta. Pada edisi kali ini, Bapak Iskandar Jusuf berbagi cerita kepada kita semua mengenai kebanggaannya menjadi alumnus Sekolah Pa Hoa, serta pandangannya mengenai pentingnya belajar dari sejarah.
Seperti diceritakan Bp. Iskandar kepada Redaksi Majalah Pahoa.
Kebanggaan Putra JPP Angkatan I. Saya lulus dari Sekolah Jajasan Pendidikan dan Pengajaran (JPP) tahun 1958. Sekolah JPP baru didirikan pada tanggal 1 November 1957, jadi saya adalah alumnus JPP angkatan pertama.
Pada tanggal 6 November 1957, Pemerintah RI menetapkan bahwa semua anak berkewarganegaraan Indonesia harus bersekolah di sekolah nasional. Sekolah berbahasa asing hanya khusus untuk anak-anak bangsa asing. Segera setelah pengurus Sekolah Pa Hoa (THHK Jakarta) mendapatkan “bocoran” ini, maka pengurus segera mempersiapkan pendirian sekolah nasional untuk siswa-siswi Sekolah Pa Hoa berkewarganegaraan Indonesia.
Sebagian dari pengurus Sekolah Pa Hoa yang berkewarganegaraan Indonesia telah mengundurkan diri dari Sekolah Pa Hoa dan mendirikan sekolah untuk anak-anak eks-Sekolah Pa Hoa ini. Dalam waktu sangat singkat, pada tanggal 1 November 1957, mendahului terbitnya peraturan pemerintah tanggal 6 November 1957, para pengurus Sekolah Pa Hoa (THHK Jakarta) telah berhasil membentuk sebuah yayasan untuk mengelola sekolah nasional yang diberi nama Sekolah Jajasan Pendidikan dan Pengajaran.
Pada 6 November itu pula, saat sekolah-sekolah asing dialihkan ke Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) dan menjadi sekolah nasional, Sekolah JPP sudah berstatus sekolah nasional yang mandiri sehingga Sekolah JPP tidak harus dikelola oleh Baperki.
Mulai tanggal 1 November 1957, saya sudah bersekolah di sekolah nasional Sekolah JPP, dan pada tahun 1958 saya lulus sebagai angkatan pertama dan mendapat ijazah SMA JPP. Karena Sekolah JPP adalah sekolah nasional, maka saya juga boleh mengikuti Ujian Negeri.
Memang sejak tahun 1948, Pengurus Sekolah Pa Hoa (THHK Jakarta) sudah memprogramkan bahwa lulusan SMA Pa Hoa harus ditujukan ke tiga jurusan yaitu universitas di Tiongkok, universitas berbahasa Inggris, dan universitas-universitas di Indonesia.
Sejak masih bersekolah di Sekolah Pa Hoa, kami sudah dipersiapkan untuk ikut Ujian Negeri, maka dalam mengerjakannya kami tidak menemui kesulitan. Saya lulus Ujian Negeri dan mendapat ijazah SMA dari Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (PPK).
Dari SD, SMP, hingga SMA, saya bersekolah di Sekolah Pa Hoa. Saya hanya bersekolah di JPP selama beberapa bulan saja. Dari kemurahan hati pengurus Sekolah Pa Hoa, khusus untuk lulusan SMA JPP angkatan 1958 yang sudah sekolah di Sekolah Pa Hoa sampai kelas tigas SMA, kami diberikan ijazah Sekolah THHK Jakarta (Pa Hoa).
Jadi saya mendapatkan tiga ijazah SMA. Rasanya tidak banyak orang yang bisa mendapatkan tiga ijazah SMA sekaligus. Mungkin hanya siswa SMA Pa Hoa/JPP angkatan 1958 yang mendapatkan keberuntungan seperti itu. Maka saya sangat berterima kasih atas kemurahan hati dari pengurus THHK Jakarta (Pa Hoa).
Saya harus mengakui bahwa saya memang sangat menghormati dan membanggakan para pengurus Sekolah Pa Hoa/JPP yang mempunyai visi hebat. Mereka dapat melihat hari depan yang akan dihadapi oleh siswa-siswinya. Begitu hebatnya pengurus Sekolah Pa Hoa yang sangat perhatian terhadap siswa dan siswinya. Saya bangga bersekolah di Sekolah Pa Hoa, dan saya bangga menjadi alumnus Sekolah Pa Hoa dan alumnus Sekolah JPP.
Belajar Menjadi Visioner dari Pengurus Sekolah Pa Hoa Lama. Sejarah panjang Sekolah Pa Hoa sangat menarik untuk diteliti. Makin saya teliti makinlah saya kagum kepada pengurus Sekolah Pa Hoa yang sangat visioner. Visi Sekolah Pa Hoa tentang pendidikan moral Confucius dan tentang sekolah trilingual sampai sekarang masih relevan. Visi Sekolah Pa Hoa yang selalu berpihak kepada Tionghoa peranakan yang ingin terus menetap dan bekerja di Hindia Belanda, sekarang sudah menjadi kenyataan.
Setelah seratus tahun lebih, sekarang sudah dapat dibuktikan bahwa yang benar adalah visi Sekolah Pa Hoa. Pernyataan “Sekali bangsa Tionghoa tetaplah bangsa Tionghoa” ternyata salah. Sekarang, hampir semua bangsa Tionghoa yang menetap di Indonesia sudah menjadi warga negara Indonesia, sudah menjadi bangsa Indonesia.
Beberapa keputusan Pengurus Sekolah Pa Hoa yang patut diberi apresiasi. Para pendiri Sekolah Pa Hoa mendirikan sekolah karena pemerintah Hindia Belanda tidak mendirikan satupun sekolah bagi anak-anak Tionghoa.
Sekolah Pa Hoa berusaha mengubah adat istiadat dan tradisi orang Tionghoa pada saat itu yang buruk dengan menyebarkan ajaran budi pekerti Confucius.
Sekolah Pa Hoa menjadi sekolah Tionghoa trilingual yang pertama di Indonesia. Tujuannya adalah agar siswa dan siswi Sekolah Pa Hoa lebih mudah mencari kerja di perusahaan internasional. Dengan hanya menguasai bahasa Tionghoa, sangat sulit bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan di Hindia Belanda.
Sekolah Pa Hoa bersama dengan Tiong Hoa Siang Hwe berani menolak dan menentang kampanye Sin Po bersama dengan ratusan sekolah THHK lainnya yang anti Nederlandsch Onderdaan (kaulanegara Belanda). Sekolah Pa Hoa berpihak kepada orang Tionghoa peranakan yang ingin menetap dan bekerja di Hindia Belanda!
Sekolah Pa Hoa mempunyai andil besar dalam mendorong pemerintah Belanda mendirikan Hollandsch Chineesche School, yaitu sekolah yang didirikan pemerintah kolonial Belanda bagi anak-anak Tionghoa di Hindia Belanda.
Sekolah Pa Hoa menjadi pelopor sekolah Tionghoa yang mempersiapkan siswanya untuk ikut ujian negeri. Maka walaupun Sekolah Pa Hoa berstatus sekolah Tionghoa, tetapi pada tahun 1950-an sudah banyak siswanya yang lulus ujian negeri. Salah satunya adalah Prof. Dr. Ir. Dali Santun Naga, MMSI.
Sekolah Pa Hoa berani memberi kesempatan kepada siswa dan siswinya untuk memilih sendiri mau masuk ke kelas bagian bahasa Tionghoa atau kelas bagian bahasa Indonesia. Kelas bahasa Tionghoa mempersiapkan siswanya untuk meneruskan berkuliah ke universitas di Tiongkok, Taiwan, atau Singapura. Kelas bahasa Indonesia mempersiapkan siswanya untuk berkuliah di universitas-universitas di Indonesia atau di luar negeri.
Waktu itu, SMA kelas I Sekolah Pa Hoa dibagi menjadi lima kelas. Satu kelas bahasa Tionghoa dan empat kelas bahasa Indonesia. Kelas bahasa Indonesia dibagi menjadi satu kelas bagian B, dua kelas bagian C, dan satu kelas bagian bisnis (semacam SMEA) untuk langsung mencari kerja.
Kita berpikir, maka kita belajar sejarah. Ada pepatah yang menyatakan, “Sikap manusia ditentukan oleh pengalaman masa lampau.” Sejarah merupakan catatan tentang peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Manusia adalah makhluk yang berpikir, maka kita harus belajar dari sejarah agar tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti yang pernah dilakukan pada masa lampau.
Dalam Buku Peringatan 120 tahun Sekolah Pahoa, saya ada menulis satu tulisan tentang Kwee Hing Tjiat. Pada tahun 1915, Kwee Hing Tjiat adalah pemimpin redaksi koran Sin Po. Ia tidak setuju orang Tionghoa diberikan status Nederlandsch Onderdaan. Ia berpendirian bahwa sekali bangsa Tionghoa, tetap bangsa Tionghoa. Di bawah pimpinannya, koran Sin Po pernah mengumpulkan tanda tangan untuk menolak Nederlandch Onderdaan, Indie Weerbar, dan Volksraad. Ia berhasil mendapat dukungan dari organisasi-organisasi Tionghoa dan dari hampir seluruh Sekolah THHK di Hindia Belanda, kecuali Sekolah Pa Hoa dan Tiong Hoa Siang Hwee.
Setelah berhenti dari koran Sin Po, ia merantau ke Jepang dan Eropa. Karena merasa dirinya bangsa Tionghoa, maka ia memakai paspor Tiongkok dan bukan paspor Hindia Belanda. Ketika ia kembali ke Hindia Belanda, ia ditahan oleh imigrasi, lalu dideportasi ke Tiongkok. Ia tinggal di Shanghai 10 tahun lebih dan ia tidak kerasan tinggal di Tiongkok. Ia pernah mengatakan, “Di negeri yang asing, cari hidup memang susah.” Atas bantuan dari Oey Tjong Hauw, anak konglomerat Oey Tiong Ham, ia akhirnya dapat kembali ke Hindia Belanda.
Setelah mengalami ketidaknyamanan di Tiongkok, ia pun berubah total, dari nasionalis Tiongkok menjadi penganjur asimilasi total! Ia menerima Nederlandsch Onderdaan. Rupanya ia telah belajar dari pengalaman masa lalunya.
Ketika ia ditanya mengapa ia mengubah haluannya, jawabnya “Kalau orang tidak berubah pikiran, itu berarti bahwa ia belum pernah berpikir.”
Ada pepatah lain yang menyatakan “History repeats itself.” Sebagai manusia, kita harus mencegah agar sejarah yang membawa malapetaka tidak berulang kembali. Agar sejarah buruk tidak berulang kembali, kita harus belajar dari sejarah.
Catatan redaksi: Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah Pak Iskandar. Salah satu hal yang paling penting adalah sudah sepantasnya kita bersyukur dan bangga akan tanah air tempat kita tinggal dan hidup saat ini. Tentu saja kita pun bangga akan Pahoa yang tangguh melangkah melampaui berbagai tantangan zaman. Dengan berbagai karya di bidang kita masing-masing, kita dapat menunjukkan dukungan dan cinta kita kepada bangsa dan juga kepada almamater.