News | PAP

NEWS

Dari Natasha untuk Indonesia: Lebih Dekat dengan Natasha Namoru (Miss Earth Indonesia Ecotourism 2020) July 29, 2021 No Comment

Dari Natasha untuk Indonesia: Lebih Dekat dengan Natasha Namoru (Miss Earth Indonesia Ecotourism 2020)

Mendapat Gelar Miss Earth Indonesia Ecotourism 2020 membuat Natasha Namoru (Alumna Sekolah Terpadu Pahoa lulusan tahun 2016) mendapatkan banyak pengalaman serta tanggung jawab baru. Apa saja? Dalam wawancara, Natasha berbagi kisahnya kepada kita semua

Selamat ya Natasha untuk prestasimu sebagai Miss Earth Indonesia Eco Tourism 2020! Boleh diceritakan, sekarang kesibukan Natasha apa, nih?
Terima kasih banyak, ya! Kesibukanku sekarang cukup beragam, nih. Setelah lulus kuliah arsitektur dari Universitas Katolik Parahyangan beberapa bulan lalu, kegiatanku sekarang menerima proyek-proyek desain arsitektur dan interior freelance, mengembangkan bisnis fashion-ku (Dear Jenna The Label), dan mengurus “Untuk Bhumi” yaitu komunitas anak muda peduli lingkungan yang aku dirikan bersama beberapa teman.
Apa makna gelar yang Natasha dapatkan ini bagi diri Natasha sendiri?
Mendapatkan kepercayaan dari El John Pageants untuk menyandang gelar ini merupakan sebuah kehormatan besar untukku. Gelar ini lebih dari sekddar gelar, sebab dengan menyandang gelar ini, tanggung jawabku bertambah satu yaitu membantu mempromosikan ekowisata Indonesia yang luar biasa indah! Oleh karena itu, aku sangat berharap dengan adanya gelar ini aku dapat lebih banyak lagi menjangkau anak-anak muda untuk bersama-sama menciptakan generasi yang sadar dan peduli akan pariwisata serta alam.

Gelar Natasha saat ini adalah Miss Earth Indonesia Ecotourism 2020 yang berarti selain menaruh kepedulian dan beraksi untuk kelestarian bumi secara umum, Natasha juga memberi perhatian kepada kegiatan turisme/wisata secara bertanggung jawab. Boleh Natasha sharingkan apa artinya turisme/wisata secara bertanggung jawab?
Betul sekali. Secara simple, ecotourism atau ekowisata merupakan kegiatan pariwisata yang bertanggung jawab atau “responsible travel”. Lalu apa bedanya dengan kegiatan wisata pada umumnya? Nah, kalau ekowisata, kita berwisata ke suatu tempat namun juga dengan memperhatikan faktor lingkungan di sana serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Contohnya adalah Tangkahan di Sumatera Utara. Bila teman-teman ingin tahu lebih jauh tentang indahnya ecotourism di Indonesia, aku banyak bercerita tentang ecotourism di Instagramku (@natashanamoru). Silakan mampir, ya!
Redaksi Majalah Pahoa sempat menyaksikan beberapa klip video Natasha dalam rangka keikutsertaanmu di ajang Miss Earth Indonesia 2020. Kami akhirnya mengetahui bahwa perhatian dan keprihatinan terbesar Natasha adalah pada penggunaan plastik yang mengganggu kelestarian lingkungan. Boleh Natasha sharingkan kepada para pembaca Majalah Pahoa mengenai keprihatinan Natasha ini?

Betul. Salah satu keprihatinan terbesarku dalam isu lingkungan yaitu isu sampah plastik. Tahukah teman-teman, beberapa penelitian menyatakan bahwa Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik kedua terbesar di lautan bebas? Sedih sekali, ya. Seperti yang kita tahu, hidup kita sehari-hari masih banyak sekali bergantung dengan produk-produk plastik. Walaupun sekarang sudah banyak gerakan pemerintah maupun perusahaan swasta yang mulai dengan gerakan minim sampah plastik, namun tetap masih butuh edukasi dan pendekatan secara terus menerus, agar kita bersama-sama dapat menuntaskan isu plastik ini secepatnya.

Boleh dong berbagi cerita bagaimana pengalaman Natasha dari awal mendaftar hingga terpilih menjadi Miss Earth Indonesia Ecotourism 2020 .
Cerita perjalananku di dunia pageant dimulai pada akhir tahun 2019, ketika aku memutuskan untuk mengikuti salah satu ajang kecantikan nasional. Namun aku gagal dalam tahap audisi. Pada tahun 2020 aku bertekad untuk bangkit dan mencoba lagi dan kali ini di ajang Miss Earth Indonesia 2020. Singkat cerita, sekitar 3 tahap audisi aku lewati dan akhirnya puji Tuhan pada Agustus 2020 diumumkan bahwa aku terpilih menjadi salah satu finalis.
Selama bulan Agustus-November 2020, aku dan 24 finalis Miss Earth Indonesia 2020 lainnya menjalankan karantina virtual dari daerah masing-masing. Selama proses karantina virtual kami banyak diberikan tantangan dan tugas-tugas. Selain itu, kami juga mendapatkan banyak materi melalui aplikasi Zoom.
Pada November 2020 diselenggarakan grand final Miss Earth Indonesia 2020 yang disiarkan Live di El John TV. Puji Tuhan, malam itu aku menyandang gelar Miss Earth Indonesia Ecotourism 2020.
Senang sekali, selama prosesnya aku diberikan kesempatan untuk berkolaborasi juga dengan guru Bahasa Indonesia SMP-ku, Bona laoshi, dan menciptakan sebuah karya puisi dan video berjudul “Menolak Takluk” dan berkesempatan memproduksi sebuah video singkat berjudul “Letter from Mother Earth” bersama dengan alumnus Pahoa yaitu Jovian Lukito.
Mengikuti ajang ini pasti merupakan pengalaman yang sangat berharga dalam hidup Natasha. Pelajaran paling berharga apa yang telah Natasha petik dari pengalaman ini?

Betul sekali. Aku sangat bersyukur dapat diberikan pengalaman yang luar biasa ini. Selain kesempatan untuk mengenal finalis lainnya dari Aceh sampai Papua, banyak pelajaran berharga yang aku dapatkan. Salah satunya adalah tentang “perseverance” atau kegigihan.
Tantangan-tantangan yang diberikan kepada kami adalah cukup berat, karena kami harus mengkoordinir sendiri semua hal, dari mencari sponsor, sampai mengeluarkan tenaga, waktu, dan kreatifitas kami. Ditambah dengan waktu karantina yang lama (3 bulan), betul-betul aku membutuhkan kegigihan yang kuat untuk sampai ke garis finish.

Natasha memiliki komunitas “Untuk Bhumi” yang memiliki visi mendidik dan menginspirasi anak muda untuk semakin menyadari pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Boleh Natasha ceritakan sedikit mengenai komunitas ini dan bagaimana caranya jika ada teman-teman Pahoa yang mau bergabung?
Boleh, dong! Awalnya “Untuk Bhumi” merupakan advokasi nyata yang aku bawakan pada ajang Miss Earth Indonesia 2020. Pada bulan Agustus 2020, aku dan 3 teman co-founders lainnya setuju untuk menciptakan sebuah komunitas anak muda yang peduli lingkungan. Kami memiliki visi untuk menjadi platform yang mengedukasi dan menginspirasi anak-anak muda tentang sustainability & eco-lifestyle. Kami sekarang memiliki hampir 20 anggota yang tersebar di seluruh Indonesia.
Beberapa di antaranya adalah alumni dan siswa Pahoa, lho. Mereka adalah Yulie Sucitta (co-founder Untuk Bhumi), Vania Deryani, Patricia Juliana, dan Felicia Huang, dan Fellicia Angeline. Bila teman-teman penasaran akan kampanye-kampanye yang kami adakan, silakan cek Instagram @untukbhumi. Tapi untuk saat ini kami belum membuka pendaftaran lagi nih untuk keanggotaan. Namun kami terbuka lebar untuk kolaborasi!
Saat ini kita masih berjuang bersama dalam kondisi pandemik. Bagaimana Natasha melihat isu kelestarian lingkungan jika dilihat dari kondisi yang ada saat ini?

Menurutku, kita dapat melihanyat dari dua sudut pandang yang berbeda mengenai keterkaitan pandemi ini dan lingkungan. Di satu sisi, pandemi ini meningkatkan jumlah sampah plastik (dari semakin seringnya kita memesan makanan online) dan sampah medis (contohnya masker). Hal ini tentu buruk bagi lingkungan. Namun di sisi lain, penelitian menunjukkan bahwa kualitas udara membaik dan beberapa kali kita dapat melihat langit biru Jakarta. Semoga pandemi ini cepat berlalu ya.

Sebagai seorang alumna Sekolah Pahoa, adakah nilai-nilai yang Natasha pelajari di Sekolah Pahoa yang mempengaruhi kehidupan Natasha, termasuk saat Natasha berjuang di ajang Miss Earth Indonesia?
Jelas ada. Enam tahun aku bersekolah di Pahoa dan belajar tentang nilai-nilai Confucius dan ini tentu sangat mempengaruhi kehidupanku, dalam ajang Miss Earth Indonesia 2020 misalnya. Aku belajar untuk bijak dalam mengambil keputusan. Aku belajar untuk memperlakukan orang-orang dengan hormat tanpa memandang status mereka maupun latar belakang mereka. Aku yakin nilai-nilai hidup yang aku junjung ini yang telah berhasil membawa aku ke titik ini.
Pesan Natasha untuk adik-adik dan seluruh keluarga besar Sekolah Terpadu Pahoa?

Aku sangat bersyukur dapat menjadi bagian dari Sekolah Terpadu Pahoa. Terima kasih banyak untuk tim redaksi Majalah Pahoa yang sudah memberikan ruang untuk aku bercerita. Perjalanan menjadi Miss Earth Indonesia 2020 merupakan bentuk nyata semboyan “Belajar untuk Diamalkan” dariku. Semoga ini dapat menginspirasi teman-teman semua untuk mengejar mimpi dan terus berjuang sehingga menjadi dampak yang baik dalam dunia ini. Teruslah berkarya, sebab Indonesia butuh lebih banyak lagi anak-anak muda yang inovatif dan visioner.

Ada hal lain yang Natasha mau sampaikan?
Aku doakan hal yang terbaik untuk Sekolah Terpadu Pahoa dan untuk kita semua. Oh ya, dan aku sangat terbuka untuk berbagai bentuk kolaborasi. Jadi, jangan sungkan untuk menghubungi aku. Terus nantikan karya-karyaku selanjutnya ya. Sampai bertemu di lain kesempatan!